Kaum Quraisy telah tinggal di Mekkah pada akhir abad ke-5. Nenek moyang mereka, Qusay (kakek kelima Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam.), beserta dengan saudaranya Zuhrah, dan pamannya Taym tinggal di bukit Makkan di samping tanah Haram. Makhzum, putra dari paman lainnya, dan saudara sepupu mereka Jumah dan Sahm tinggal di sana bersama Qusay. Mereka dan kaum mereka kemudian dikenal sebagai Quraisy Lembah.
Kaum Quraisy yang lebih sedikit tinggal di daerah pinggiran dan lebih dikenal dengan Quraisy Pinggiran. Kaum Quraisy pernah pergi ke Syria dan membawa tiga berhala, yaitu Latta, Uzza, dan Manat ke Hijaz. Mereka menempatkan dewa yang terbesar, Hubal, di Ka’bah.Dalam sebuah kampanye yang melibatkan berbagai tipu daya dan kekuatan, kaum Quraisy mencoba untuk menguasai Mekkah dan menyingkirkan Khuza’ah, suku pelindung yang dianggap gagal memelihara Ka’bah.
Dari anak keturunan Qusay, Abd Al-Dar adalah yang keturunan tertua, meski saudaranya, Abdul Manaf, lebih terkenal dan lebih dihormati. Ketika usia Qusay sudah mulai menua, ia mendelegasikan posisi kekuasaannya pada Abd Al-Dar dan memberikan kunci Ka’bah kepadanya. Abd Al-Dar melepaskan tugas baru yang diamanahkan ayahnya kepadanya. Hal yang sama juga dilakukan anak-anaknya, tapi mereka tidak mampu menandingi putra-putra Abdul Manaf dalam hal penghargaan dan popularitas di mata masyarakat. Karena itu, Hasyim, Abdul Shams, Al-Mutthalib, dan Nawfal, putra-putra Abdul Manaf, mencoba untuk mengambil alih hak istimewa tersebut dari sepupu mereka. Perseteruan dua kubu tersebut memicu terjadinya perang sipil, tapi akhirnya tercapai kesepakatan dalam bentuk pembagian kekuasaan. Dua kubu tersebut pun hidup berdampingan sampai kedatangan Islam.
Hasyim
Hasyim adalah pemimpin bagi kaumnya, seorang kaya yang diberi posisi terhormat untuk memberi makan dan minum bagi orang-orang yang berziarah ke Mekkah, sebagai hasil dari kompromi antara putra Abdul Manaf dan Abdul Dar. Perannya sebagai pemimpin semakin di kuatkan oleh kedermawanannya. Saat kekeringan melanda, dia menyediakan makanan bagi seluruh penduduk Mekkah. Dia membuat kebijakan yang belum pernah terjadi sebelumnya, yaitu mengatur dan membakukan dua perjalanan kafilah ke Yaman dan Syam. Di bawah kepemimpinanya yang bijak lah, Mekkah meraih kemakmuran dan diakui menjadi ibu kota bangsa arab. Karena pengaruhnya tersebut, keturunan Abdul Manaf mampu meraih perjanjian damai dengan tetangganya: Ghassanid, Byzantinium, Habasyahn, Persia, dan Himyarite Yaman.
Hasyim dengan cepat meningkatkan kekuasaannya menjadi pemimpin Mekkah. Meski pun saudara sepupunya, Umayyah bin Abdul Shams, berusaha menantang kekuasaannya, tidak ada satu pun yang hilang, dan Umayyah akhirnya diusir ke Syam selama sepuluh tahun. Salah satu perjalanan terpenting yang pernah dilakukan oleh Hasyim adalah perjalanan ke Syam, dimana dia berhenti di Yatsrib. Saat itu, ia melihat seorang wanita yang sedang melakukan bisnis dengan beberapa rekannya. Wanita itu bernama Salma, putri dari 'Amr dari suku Khazraj. Hasyim meminangnya, dan kemudian dia diajak pindah ke Mekkah untuk tinggal beberapa saat bersama Hasyim. Setelah itu, dia kembali ke Yatsrib dimana ia melahirkan seorang putra yang diberi nama Shaybah, yang dia asuh bersamanya.
Abdul Mutthalib
Beberapa tahun kemudian Hasyim meninggal dalam salah satu perjalanannya dan dikuburkan di Gaza. Saudaranya, Al-Mutthalib, menggantikan posisinya. Satu hari, Al-Mutthalib ingat pada kemenakannya, Shaybah. Akhirnnya, ia pergi ke Yatsrib dan meminta kepada Salma untuk menyerahkan anaknya tersebut untuk diasuh, sehingga ia bisa mengembalikan kekuasaan ayahnya di tanah suci. Saat kembali ke Mekkah, Al-Mutthalib memasuki kota sambil menunggangi unta bersama Shaybah yang duduk di belakangnya. Kaum Quraisy, yang mengira bahwa Shaybah adalah pelayan dari Mutthalib, memanggilnya Abdul Mutthalib, hamba dari Mutthalib.
Ketika Al-Mutthalib ingin mengembalikan kekayaan yang diwariskan Hasyim kepada keponakannya tersebut, pamannya Nawfal keberatan dan menggunakan kekayaan tersebut. Abdul Mutthalib menunggu sampai ia dewasa setelah kematian Al-Mutthalib dan kemudian meminta dukungan pamannya di Yatsrib untuk melawan pamannya di Mekkah. Delapan puluh pasukan berkuda dari suku Khazraj tiba dari Yatsrib, siap memberikan bantuan militer yang dibutuhkan oleh Abdul Mutthalib untuk merebut kembali haknya. Naufal menolak untuk bertempur dan mengembalikan kekayaan yang pernah ia pakai. Abdul Mutthalib kemudian menempati posisi yang pernah diduduki oleh Hasyim. Menyikapi sumur zamzam yang telah rusak, air harus diambil dari sejumlah sumur tambahan yang terletak di pinggiran Mekkah dan di sumur kecil dekat Ka’bah. Mungkin tugas tersebut akan terasa lebih mudah jika punya banyak anak, namun Abdul Mutthalib menghadapi tantangan yang cukup besar untuk mengatasi hal ini karena ia hanya memiliki satu orang anak.
Satu malam, saat ia sedang tidur disana, ia bermimpi ada suara yang menyeru dia untuk menyuruhnya menggali At Thibah, Abdul Mutalib tanya pada suara itu apakah Thibah itu? Tapi suara itu dah hilang. Malam kedua mimpi lagi, datang lagi suara itu menyuruhnya menggali Barrah, Apa barrah itu? Tapi suara itu sudah hilang. Abdul Mutalib sudah dapat merasakan ada sesuatu yang penting, kerana dia tidak pernah mengalami mimpi begitu sebelum ini. Malam ketiga mimpi lagi, kata suara dalam mimpi itu : galilah madhmunah, apa itu madhmunah tanya Abdul Mutalib, tapi suara itu sudah hilang lagi. Makin Abdul Mutalib merasa ada sesuatu yang besar melalui mimpi tiga malam berturut turut ini. Malam keempat datang lagi suara itu sambil berkata galilah Zamzam.
Dimanakah Zamzam itu? Kali ini suara itu menjawab. 'Dia tak akan kering selama lamanya dan tak akan berkurang , dia akan memberi minum kepada para jemaah haji tetamu Allah yang Maha Agung." Dia diberi tanda-tanda yang akan mengarahkannya ke tempat air zamzam. Dan esoknya, investigasi Abdul Mutthalib membawa dia menuju tempat antara bukit Shafa dan Marwa. Bersama anaknya, ia mulai menggali. Pada masing-masing bukit, terdapat berhala yang sering diberi sesaji atau pengorbanan oleh para penyembahnya. Menggali di tempat berhala membuat kaum Quraisy berang, mereka meminta agar Abdul Mutthalib menghentikannya karena menganggap apa yang dilakukannya merupakan tindakan yang melanggar kesucian. Abdul Mutthalib menolak, kaum Quraisy mengancam. Namun ancaman tersebut tidak dihiraukannya, dia berargumen bahwa ia mengikuti petunjuk yang ia dapatkan dalam mimpinya dan meminta anaknya untuk melindunginya. Situasi makin memanas, keributan mulai terjadi, namun menyadari situasi yang makin genting dan fakta bahwa mimpi seorang pemimpin bagi mereka cukup berpengaruh, kaum Quraisy mulai mundur dan mengijinkan Abdul Mutthalib melanjutkan galiannya. Beberapa sumber mencatat bahwa Abdul Mutthalib menggali selama tiga hari sebelum akhirnya mendapati bongkahan batu besar yang menghalangi sumur tersebut. Di samping batu tersebut, dia menemukan dua patung rusa emas dan beberapa pedang dan perisai. Menyadari bahwa barang-barang tersebut adalah merupakan peninggalan suku Jurhum, dia memuji Allah dan menangis,"Di sinilah sumur Ismail!"
Kaum Quraisy berlari mendatanginya dan meminta kepadanya untuk membagi sumur tersebut. Mereka berargumen bahwa mereka juga adalah keturunan Ismail. Dia menolak, dan mengusulkan untuk membawa masalah ini pada seorang pemutus. Pada masa pra-Islam, tukang ramal sangat dihormati, dan saat terjadi suatu perselisihan, kebiasaan masyarakat Arab waktu itu adalah membawa masalah tersebut kepada tukang ramal. Hal inilah yang dilakukan oleh Abdul Mutthalib dan Quraisy. Mereka memilih tukang ramal dari Bani Sa’ad Hudhaym di dataran tinggi Syria. Dalam perjalanan ke sana, mereka kehabisan air sampai akhirnya meninggal. Kemudian, air ditemukan dibawah tunggangan Abdul Mutthalib. Mereka mengganggap bahwa hal ini sebagai pertanda. Akhirnya, mereka memutuskan memberikan hak atas zamzam pada Abdul Mutthalib dan kembali ke Mekkah.
Abdul Mutthalib pernah bersumpah bahwa ia akan mengorbankan salah satu dari putranya jika ia dikaruniai sepuluh orang anak. Harapannya terkabul, dan ia memanggil anak-anaknya untuk memenuhi sumpahnya. Disepakati bahwa nama masing-masing anak akan ditulis di anak panah untuk diundi, lalu diserahkan kepada patung Hubal. Setelah anak-anak panah itu dikocok, maka keluarlah nama Abdullah. Kemudian Abdul Mutthalib menuntun Abdullah sambil membawa parang berjalan menuju Ka’bah untuk menyembelih anaknya itu. Namun, orang-orang Quraisy mencegahnya, terutama paman-pamannya dari pihak ibu dari Bani Makhzum dan saudaranya, Abu Thalib. Abdul Muththalib kebingungan dan berkata, 'Kalau begitu apa yang harus kulakukan sehubungan dengan nazarku ini?’
Mereka mengusulkan untuk menemui seorang dukun, maka dia pun menemui dukun perempuan itu. Sesampai di tempat dukun itu, dia diperintahkan untuk mengundi Abdullah dengan sepuluh ekor unta. Jika yang keluar nama Abdullah, maka dia harus menambahi lagi dengan sepuluh ekor unta, hingga Tuhan ridha. Jika yang keluar adalah nama unta, maka unta-unta itulah yang disembelih.Kemudian dia keluar dari tempat dukun perempuan itu dan mengundi antara nama Abdullah dan sepuluh ekor unta. Ternyata yang keluar adalah nama Abdullah. Maka dia menambahi lagi dengan sepuluh unta. Setiap kali diadakan undian berikutnya, maka yang keluar adalah nama Abdullah, hingga jumlahnya mencapai seratus ekor unta, baru yang keluar adalah nama unta. Daging-daging unta tersebut dibiarkan begitu saja, tidak boleh dijamah oleh manusia maupun binatang. Tebusan pembunuhan memang berlaku di kalangan Quraisy dan bangsa Arab adalah sepuluh ekor unta. Namun, setelah kejadian ini, jumlahnya berubah menjadi seratus ekor unta, yang juga diakui Islam.
Beberapa waktu kemudian, Abdul Mutthalib memilih Aminah, putri dari Wahab, sebagai istri bagi anaknya, Abdullah. Dilihat dari garis keturunannya, ia berasal dari keluarga bangsawan. Ayahnya adalah pemimpin Bani Zahra yang cukup dihormati. Mereka menikah di Mekkah, dan beberapa saat setelah itu Abdullah melakukan perjalanan dagang dan meninggal dalam perjalanan pulangnya. Abdullah meninggalkan kekayaan yang sangat sedikit—lima ekor unta, sedikit kambing, seorang pelayan bernama Barakah, yang lebih dikenal dengan nama Ummu Aiman, yang kemudian menjadi pengasuh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam.
Akhir tahun 400 M
Pelajaran dan Hikmah yang Bisa Diambil
Status sosial di kalangan bangsa Arab bergantung pada garis keturunan mereka. Allah menakdirkan Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam berasal dari keturunan terbaik di antara bangsa Arab dan dengannya, Dia mengeliminasi kemungkinan cercaan dari orang-orang kafir bahwa Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam tidak terlalu mulia untuk didengarkan. Begitu juga membantah tuduhan yang mengatakan bahwa Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam mencoba untuk meraih kekuasaan di wiayah Arab, karena beliau sudah berasal dari kabilah terkuat dan paling disegani di wilayah Arab, yaitu Bani Hasyim.
Kehidupan nomaden merupakan perjuangan yang keras dan tanpa belas kasihan, karena begitu banyak orang yang bersaing untuk sumber yang sedikit di gurun yang tandus. Kelaparan membuat suku Badui senantiasa berperang dengan suku lain untuk mendapatkan air, padang rumput, dan hak untuk menggembala. Konsekuensinya, perampasan merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan nomaden mereka. Saat terjadi kelangkaan bahan makanan, suatu suku akan menyerang suku tetangganya untuk mendapatkan unta, sapi, atau budak. Tak seorang pun menganggapnya sebagai tindakan tercela. Ini merupakan kenyataan hidup yang harus diterima; ia tidak diinspirasi oleh kepentingan politik atau kebencian personal, tapi merupakan sejenis olahraga nasional, yang dilakukan dengan skill khusus berdasarkan aturan yang telah ditentukan. Mereka mempunyai tradisi kekesatriaan yang membangkitkan kedermawanan, tanpa pamrih, dan keberanian tapi hanya dalam konteks kesukuan. Tidak ada konsep hak asasi manusia disini. Jika sebuah kesalahan dilakukan kepada salah satu anggota suku, maka yang lain akan merasa mempunyai tanggung jawab untuk melakukan balas dendam.

0 Komentar