Mendengarkan
Anak Anda
Sering kali ke
sok tahuan orang tua membuat pemikiran anak jadi berhenti berkembang. Bagaimana
tidak, saat baru mulai akan menyampaikan pendapat orang tua sudah mencela memberikan
penjelasan saat anak-anak bertanya atau menyampaikan sesuatu alih-alih menjawab
langsung anda bisa bertanya pada soal pendapatnya atas yang ia katakan,
dengarkan apa yang ada dipikiran mereka dan bersikap terbuka kepada mereka anda
bisa bertanya ‘ya menurutmu bagaimana?’ lalu apa yang terjadi atau ‘apakah
begitu, dengarkan baik-baik pemikiran dan perasaan mereka, tutup dengan kalimat
“wow menarik yah” hal ini akan mendorong mereka untuk kian kritis.
Tidak
Menyalahkan
Jangan mengampiskan
perasaan keingin tahuan anak dengan menyalahkannya saat mereka mengajukan
pendapat yang menurut anda tidak tepat, dengarkan saja dan hormati upaya
mereka, mereka akan meminta bantuan bila menginginkannya. Ajak mereka berbicara
dan perlahan berikan penjelasan yang bisa diterima, bila perlu tunjukan
langsung apa yang ia tahu.Jujur
Berhentilah berasumsi
bahwa anda harus menjadi otoritas tertinggi dan memiliki jawaban untuk semua pertanyaan,
biasakan untuk jujur dan mengatakan “mama tidak tahu” bila anda memang tidak
bisa menjawab pertanyaan si kecil. Jawaban tersebut sering kali menjadi hal yang
bijak untuk di katakan. Ambil moment ini sebagai undangan untuk bermain,
menemukan dan menjelajahi dunia bersama.
Beri Kepercayaan
Orang tua yang sok
tahu akan mengecilkan niat anak-anak bisa menumbuhkan perasaan takut untuk
mencoba mencari tahu, karena khawatir di salahkan atau di komentari buruk, oleh
karenannya selalu jelaskan pada anak bahwa anda mempercayainya.
Menurut Clinton Callahan,
Personal coach pendiri Lembaga konseling Possibility Management, serta penulis
Building Love That Lasts, orang tua sering membuat kesalahan ketika merespon
pertanyaan-pertanyaan anak banyak orang tua berasumsi bahwa mereka harus
memberikan jawaban.
Clinton mejelaskan bahwa kondisi
psikologis orang dewasa secara alami mendorongnya untuk tampil superior dengan selalu
menjadi maha tahu.
Contohnya, “Saya tahu, saya harus
tahu. Anak-anak membutuhkan saya untuk tahu. Jika saya tidak tahu, siapa yang
tahu?”. Ia menyebutkan bahwa mencoba untuk selalu menjawab semua pertanyaan si
kecil sekalipun orang tua sendiri sebetulnya tidak tahu, maka mereka sedang
menghambat kebutuhan pikiran anak yang sedang berkembang. Orang tua mencoba untuk
memaksa anak-anak secara premature dalam realitas orang tua dewasa.
Menurutnya hidup dengan anak-anak
tidak harus menjadi kontes untuk melihat siapa yang paling pintar, ketika orang
tua tidak bisa menjawab pertanyaan dari anak, tidak berarti bahwa orang tua
kehilangan wibawa justru orang tua sedang memberi kesempatan anak untuk mencari
tahu bersama-sama.
(sumber : IG:parentingindonesia)

0 Komentar