Penghormatan dan penghargaan yang diperoleh oleh kota Mekkah dan Baitullah membuat kota lain di kawasan Arab berusaha membangun 'rumah suci" untuk menarik perhatian dari Mekkah. Orang-orang Ghasan membuat bangunan di Al-Hirah dan Abrahah Al-Ashram membuat bangunan di Yaman.
Abrahah adalah raja muda di Yaman berkebangsaan Habasyah yang membangun katedral yang cukup indah di San’a, berharap agar bangunan tersebut mampu menyedot daya tarik Mekkah dari perhatian peziarah Arab. Seorang laki-laki dari Kinana, yang mempunyai hubungan saudara dengan suku Quraisy, mengetahui rencana Abrahah tersebut. Akhirnya, secara sembunyi-sembunyi ia masuk ke kompleks bangunan tersebut dan melumuri tembok depannya dengan kotoran. Tindakan tersebut memancing kemarahan Abrahah, membuatnya mengerahkan 6000 tentara untuk menyerang Ka’bah dan meratakannya dengan tanah. Mereka membawa sejumlah Gajah yang akan mereka gunakan untuk menginjak-injak musuhnya.
Quraisy dan suku sekitarnya melakukan rapat, mereka memutuskan bahwa percuma bagi mereka untuk menahan musuh mereka. Atas saran Abdul Mutthalib, Quraisy menarik diri ke gunung-gunung, menjelaskan kepada mereka bahwa Ka’bah mempunyai Tuhan yang akan melindunginya.
Ketika Abraham sampai di bukit Muhassar, yang terletak di antara Muzdalifa dan Mina, gajah yang ia bawa tersungkur dan menolak untuk melanjutkan perjalanan. Mereka mengerahkan segala cara untuk membuatnya berdiri, bahkan memukulnya dengan batang besi, namun gajah tersebut tetap membatu. Allah telah merusak rencana Abrahah tersebut. Langit menghitam, suara aneh terdengar, volumenya meningkat sampai gelombang gelap yang dahsyat menyapunya dari arah laut. Di atas kepala mereka, sejauh mata memandang, penuh dengan burung-burung. Allah telah menurunkan burung Ababil yang melempari pasukan Abrahah dengan batu dari Sijjil, yang mampu menembus tulang-tulang mereka. Setiap batu mengenai seluruh sasaran dan menewaskan mereka. saat terkena lemparan batu, daging mereka langsung membusuk. Melihat musuh-musuh mereka tewas bergelimpangan, kaum Quraisy akhirnya pulang kembali ke rumah mereka dengan selamat.
Kejadian tersebut berlangsung pada bulan Muharram, sekitar akhir Februari atau awal Maret 570 M, lima puluh atau lima puluh lima tahun sebelum kelahiran Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam.

0 Komentar