Muhammad lahir dari keturunan Bani Hasyim, salah satu Bani paling berpengaruh di Mekkah. Kakek buyutnya adalah orang pertama yang menggagas perdagangan secara independen dengan Syria dan Yaman, dan klan Bani Hasyim mempunyai hak istimewa untuk menyediakan air bagi para peziarah saat musim haji. Peran yang cukup istimewa di kota Mekkah. Ayah Muhammad, Abdullah, meninggal sebelum beliau lahir. Sedangkan ibunya, Aminah, dalam kondisi yang sangat kesusahan, hingga diceritakan satu-satunya orang badui yang mau menjadi pelayannya adalah seorang wanita Badui yang berasal dari suku paling miskin di kawasan Arab.
Sebelum kelahiran Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, Ibunya Aminah melihat cahaya keluar dari kemaluannya, menyinari istana-istana di Syam. Bertepatan dengan saat kelahiran beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, runtuh pula empat belas balkon istana Kisra, padamnya api yang biasa disembah orang-orang Majusi, serta runtuhnya beberapa gereja di sekitar Buhairah setelah gereja-gereja itu ambles ke tanah.
Setelah Aminah melahirkan, dia mengirim utusan ke tempat kakeknya, Abdul Muththalib, untuk menyampaikan kabar gembira tentang kelahiran cucunya. Abdul Muththalib pun datang dengan perasaan suka cita, lalu membawa beliau ke dalam Ka’bah, seraya berdoa kepada Allah dan bersyukur kepada-Nya. Dia memilih nama Muhammad—nama ini belum dikenal di bangsa Arab— bagi beliau. Beliau dikhitan pada hari ketujuh, seperti yang biasa dilakukan orang-orang Arab. Masyarakat setempat cukup terkejut dengan pilihan nama tersebut dan bertanya kepada Abdul Mutthalib memilih nama tersebut, bukan nama yang biasa dipakai orang-orang Quraisy saat itu. Dia menjawab, 'karena saya ingin Allah memujinya di surga dan ciptaan-Nya memujinya di bumi."
Akhir tahun 570 M
Pelajaran dan hikmah yang bisa diambil
Ayah Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam meninggal sebelum kelahiran beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, sehingga beliau lahir dalam keadaan yatim. Beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam tinggal bersama keluarga ibunya sampai usia 6 tahun, dan mengalami kehidupan mengembara yang cukup berat saat itu. Sesaat setelah beliau dibawa ke Mekkah, ibunya meninggal. Dua kehilangan ini meninggalkan kesan yang cukup mendalam bagi beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, dan pengasuhan beliau akhirnya diserahkan pada kakeknya dan kemudian pamannya. Fakta bahwa Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam tumbuh tanpa pengasuhan dengan jangka waktu yang cukup lama dan stabil membantah orang-orang yang menuduh bahwa beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dipengaruhi dan didoktrin sejak muda untuk menjadi pemimpin, mencari kekuasaan di kaumnya.
Kehamilan Aminah berlangsung cukup mudah, tanpa kesulitan-kesulitan yang biasa dialami wanita lain. Saat hamil, beliau bermimpi yang dalam mimpi tersebut ia diberitahu bahwa ia sedang mengandung seorang pemimpin dan hendaknya memberinya nama Muhammad, dan saat dia lahir agar dia berdoa,"Saya menyerahkanmu pada perlindungan Dzat Yang Maha Perkasa dari kejahatan orang-orang yang dengki."
Banyak sejarawan mencatat bahwa seluruh silsilah Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam adalah melalui pernikahan yang sah, tidak ada satu pun dari nenek moyang beliau yang lahir dari perzinaan di luar nikah. Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam pernah bersabda,"Allah melahirkanku dari pernikahan, bukan dari perzinaan," dan bahwa,"Aku lahir dari generasi terbaik anak Adam, generasi demi generasi, sampai mencapai generasi yang aku lahir di dalamnya." Beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam juga bersabda,"Allah memilih Kinanah dari keturunan Ismail, dan Dia memilih Quraisy dari keturunan Kinanah, memilih Bani Hasyim dari kalangan Quraisy, dan Dia memilihku dari antara kalangan Bani Hasyim." Muhammad juga dikenal dengan nama Ahmad, Al-Mahi, Al-Hashir, Al-Aqib, dan Al-Khatim.
Tujuan mempelajari Sirah Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam.
Sirah Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. dikenal di seluruh dunia, baik di kalangan Islam mau pun kalangan sekuler. Namun, mereka memiliki niat, tujuan dan pendekatan yang berbeda-beda saat membaca sirah Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Beberapa melihat dari sisi romantisme dalam kehidupan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, mencoba untuk meningkatkan cinta mereka pada manusia mulia ini, namun mengesampingkan penguatan agama. Beberapa yang lain melakukan pendekatan Sirah hanya untuk kepentingan akademis semata, membedah masing-masing Peristiwa dari perspektif konten maupun cara penyebaran sejarah semata.
Tujuan utama mempelajari Sirah Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam adalah untuk mengontekskan iman seseorang dan memahami berbagai cabang iman ke dalam karakter dan tingkah laku satu orang, yaitu Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Ini merupakan proses menggabungkan berbagai bagian dari Islam yang telah dipelajari seseorang untuk diejawantahkan ke dalam karakter dan tingkah laku.
Sebagai kesimpulan, tujuan mempelajari sirah nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. adalah sebagai usaha untuk mewujudkan realitas keyakinan, secara keseluruhan, sebagaimana yang terlihat pada diri tauladan kita, Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam
Wahyu dan syariat yang turun pada tahun ini
Sedikit sekali yang kita tahu tentang awal-awal kehidupan Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Al-Quran memberitahu kepada kita catatan paling otoritatif tentang pengalaman beliau sebelum menerima wahyu di usia 40 tahun, sebagaimana yang termuat dalam Surat Adh-Dhuha:
Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu ?
Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk.
Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.
Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk.
Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.

0 Komentar