Masa Kecil Nabi

Sudah menjadi kebiasaan orang Arab untuk mengirimkan anaknya kepada suku badui untuk dirawat, dengan harapan mereka bisa tumbuh dengan udara segar saat penyusuan, kemurnian dialek arab, dan kebebasan bagi jiwa mereka. Jauh dari hiruk pikuk perkotaan demi terbentuknya ikatan yang kuat dengan gurun pasir. Mereka akan tinggal di sana selama delapan tahun.
Suku Badui akan mengunjungi Quraisy secara periodik, dan pada tahun kelahiran Muhammad banyak suku Badui mengalami kelaparan yang sangat. Salah satu kaum di suku Badui, Bani Sa’ad, termasuk kaum yang sangat kesusahan, sehingga meski pun Muhammad adalah seorang yatim dari keluarga miskin, Halima, salah seorang dari kaum tersebut memutuskan untuk mengurus beliau karena ia tidak bisa menemukan anak lain yang bisa disusuinya. Tapi Halima sendiri mengalami kelaparan sampai-sampai tidak mempunyai susu untuk disusukan ke bayinya sendiri. Susu ontanya pun telah mengering dan bahkan keledai yang ia tumpangi menuju Mekkah juga sudah kehabisan tenaga. Tapi yang terjadi setelah ia mengambil bayi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam untuk diasuhnya:
'Ketika aku mengangkatnya dan kemudian mulai menyusuinya, hasilnya sungguh mengejutkan. Keluar begitu banyak asi dari payudaraku. Dia minum sampai puas dan begitu juga dengan saudara angkatnya, dan akhirnya keduanya bisa tidur dengan nyenyak meski pun bayiku sendiri tidak bisa tidur malam sebelumnya. Kemudian, suamiku pergi untuk menengok unta betinanya, dan yang mengejutkan, ia menemukan begitu banyak susu darinya. Esok paginya, suamiku berkata:" Demi Allah, tahukah engkau wahai Halimah, engkau telah mengambil satu jiwa yang penuh berkah." Dan dia membalas: "Demi Allah, aku pun berharap demikian.""
Tidak mengherankan jika Halima enggan untuk kehilangan Muhammad dan memohon kepada Aminah agar membiarkan beliau tetap bersamanya lebih lama lagi. Namun, kejadian ajaib dan cukup menakutkan membuatnya berubah pikiran.
Satu hari, saudara angkat Muhammad Shallallahu `Alaihi wa Sallam lari menuju orang tuannya sambi menangis. Dia bercerita bahwa dua orang berbaju putih menangkap dan membelah dada Muhammad. Halima kemudian berlari menuju anak kecil yang terkulai lemah di atas tanah. Kemudian dia menceritakan tentang orang yang telah mengambil hati dari tubuhnya dan mengeluarkan segumpal darah darinya serta mengatakan: `Ini adalah bagian setan yang ada pada dirimu." Lalu Malaikat Jibril mencucinya di sebuah baskom dari emas dengan menggunakan air Zamzam, kemudian menata dan memasukkannya ke tempatnya semula.
Setelah kejadian itu, Halimah khawatir dengan Muhammad kecil dan mengembalikannya kepada ibunya, yang berusaha menenangkan Halimah dan menjelaskan kepadanya tentang keluarbiasaan Muhammad Shallallahu `Alaihi wa Sallam. Ibunya memutuskan untuk tinggal di Mekkah, tapi saat ia berusia enam tahun Aminah meninggal dan Muhammad menjadi yatim piatu. Kemudian ia diasuh oleh kakeknya Abdul Mutthalib yang sangat menyayanginya. Meski demikian, keyatiman beliau meninggal kesan yang mendalam pada diri Muhammad Shallallahu `Alaihi wa Sallam. Bahkan Al-Quran harus menghiburnya dan mengingatkannya, sebagaimana dalam ayat, `Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk."
Abdul Muththalib membawa Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam kembali ke Mekkah. Perasaan kasih sayang di dalam hatinya terhadap cucunya yang kini yatim piatu semakin kuat, karena cucunya harus menghadapi cobaan baru di atas luka yang lama. Hatinya bergetar oleh perasaan kasih sayang yang tidak pernah dirasakannya sekali pun terhadap anak-anaknya sendiri. Dia tidak ingin cucunya hidup sebatang kara. Bahkan, dia lebih mengutamakan cucunya dari pada anak-anaknya. Ada sebuah dipan yang diletakkan di dekat Ka’bah untuk Abdul Muththalib. Sedangkan kerabat-kerabatnya biasa duduk di sekeliling dipan itu hingga Abdul Muththalib ke luar ke sana, dan tidak ada seorang pun di antara mereka yang berani duduk di dipan itu sebagai penghormatan terhadap dirinya. Suatu hari—saat Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam telah menjadi anak kecil yang montok—beliau duduk di atas dipan itu, maka paman-paman beliau langsung memegang dan menahan agar tidak duduk di atas dipan itu. Tatkala Abdul Muththalib melihat kejadian ini, dia berkata, `Biarkan anakku ini. Demi Allah, sesungguhnya dia akan memiliki kedudukan yang agung.` Kemudian Abdul Muththalib duduk bersama beliau di atas dipannya sambil mengelus punggung beliau dan senantiasa merasa gembira terhadap apa pun yang beliau lakukan."
Akhir tahun 571 M
Pelajaran dan hikmah yang bisa diambil
Sejak masa kecil Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam kita belajar bahwa pengalaman perjalanan, hidup bersama masyarakat dan terbiasa dengan adat kebiasaan, lingkungan dan masalah mereka, akan mempermudah seseorang untuk mendapatkan pengaruh da’wah yang lebih dahsyat dan lebih kekal.
Orang yang hanya berinteraksi dengan orang lain melalui media buku, artikel, dan internet, tanpa bergaul dengan masyarakat dengan latar belakang yang berbeda, lebih susah untuk memberikan pengaruh pada masyarakat. Hal ini dikarenakan masyarakat tidak akan mendengarkan atau memberikan respon atas seruan mereka. Mereka menganggap bahwa orang tersebut tidak memahami lingkungan dan masalah mereka.
Berbeda sekali dengan pengasuhan yang didapatkan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, beliau adalah figur yang cukup populer di kalangan temannya dan pernah melakukan perjalanan dua kali keluar Mekkah. Pertama adalah perjalanan beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersama pamannya, Abu Talib, saat berusia dua belas tahun, dan kedua saat beliau berusia dua puluh lima tahun dalam rangka melakukan perdagangan membantu Khadijah.
Muhammad muda tumbuh menjadi sosok populer di Mekkah. Beliau tampan, dengan tubuh yang padat berisi dan tinggi rata-rata masyarakat arab saat itu. Rambut dan jenggotnya tebal dan berombak, dan beliau mempunyai ekspresi yang menarik dengan senyum yang sangat mempesona. Beliau sangat sungguh-sungguh dalam mengerjakan setiap pekerjaan, tekun dalam mengerjakan tugas yang ada di tangan tanpa pernah melihat ke belakang, meski jubahnya tersangkut semak berduri. Ketika beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam berbicara dengan seseorang, beliau membalikkan badannya dan menghadap penuh kepada lawan bicaranya. Ketika beliau menyalami, beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam tidak pernah menarik duluan. Beliau terkenal dengan julukan Al-Amin, yang dapat dipercaya. Karakter yang tanpa diragukan lagi menjadi salah satu hikmah dibalik pemilihan beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam sebagai Rasul.
Meski pun penduduk Mekkah sudah tidak lagi hidup nomaden, mereka masih menganggap suku badui sebagai penjaga keaslian budaya arab. Muhammad kecil dikirim untuk tinggal di padang pasir bersama dengan suku pengasuhnya, Halima, untuk diajari etos sebagai seorang pengembara. Hal ini memberikan kesan yang mendalam bahwa beliau tidak pernah tumbuh dalam kecenderungan ketidakberagamaan dan tanpa spekulasi seputar hal-hal supernatural yang dipercayai bangsa arab waktu itu. Pada poin ini dalam kehidupan Muhammad, beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam merupakan teladan yang sempurna tentang seseorang yang hidup sesuai dengan fitrah yang tidak rusak.
Wahyu dan syariat yang turun pada tahun ini
Saat remaja, Muhammad menggembala domba milik salah seorang penduduk Mekkah dengan bayaran beberapa dinar. Sebagaimana yang pernah dikatakan oleh beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam :
'Tidak ada Nabi yang bukan penggembala." Para sahabat bertanya,"Sekalipun Anda, ya Rasulullah?" Belia Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menjawab,"Sekali pun aku." Menurut riwayat lain beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam berkata,"Allah tidak pernah mengutus seorang Nabi melainkan ia adalah seorang gembala." Para sahabat bertanya,"Sekali pun Anda, ya Rasulullah?" beliau menjawab, 'Sekali pun aku. Aku menggembalakan domba penduduk Mekkah dengan bayaran beberapa dinar."
Karakter luar biasa Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam disebutkan oleh Allah di beberapa ayat dalam Al-Quran. Dalam surat Al-Ahzab:
'Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah."
Dan juga dalam surat Al-Qalam:
'Dan sesungguhnya kamu berada di atas akhlak yang agung"

0 Komentar