Kematian Kakek Nabi

Hidup nampak akan lebih mudah bagi seorang anak yatim jika Abdul Mutthalib hidup lebih lama, tapi atas kehendak Allah, kakek Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam meninggal pada usia delapan puluh tahun, saat beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam baru menginjak usia delapan tahun.
Pengasuhan Muhammad kini jatuh ke tangan Abu Thalib, pamannya. Abu Thalib bukanlah saudara tertua Abdullah, tapi dia memberikan perhatian dan pengasuhan yang luar biasa kepada keponakannya tersebut. Abu Thalib menjalankan kewajiban yang diembankan kepadanya untuk mengasuh keponakannya dengan penuh tanggung jawab seperti halnya dia mengasuh anak-anaknya sendiri. Dia bahkan mendahulukan kepentingannya di atas kepentingan mereka. Selain itu, ia mengistimewakannya dengan penghargaan yang begitu berlebihan. Perlakuan tersebut terus berlanjut hingga beliau berusia di atas empat puluh tahun. Paman beliau masih tetap memuliakan, memberikan pengamanan terhadapnya, menjalin persahabatan ataupun mengobar permusuhan dalam rangka membelanya.
Akhir tahun 578 M
Pelajaran dan hikmah yang bisa diambil
Muhammad merasakan kepedihan dalam hidup beliau sebagai seorang yatim piatu yang harus kehilangan kedua orang tuanya sejak kecil. Beliau juga hidup dalam kemiskinan. Dua faktor tersebut membentuk beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menjadi lebih peka terhadap apa yang dirasakan orang lain.
Sebagaimana nabi-nabi sebelumnya, beliau awalnya berasal dari warga kelas atas dalam bayangan kakeknya Abdul Mutthalib. Disini, Muhammad belajar tentang urusan yang berkaitan dengan warga kelas atas, bahasa mereka, nuansa politik dan sosial di kalangan mereka, yang akan meningkatkan kebangsawanan beliau di mata mereka. Hal yang nantinya akan memainkan peran yang penting bagi beliau dalam dakwah Islam selanjutnya.
Meski pun penduduk Mekkah sudah tidak lagi hidup nomaden, mereka masih menganggap suku badui sebagai penjaga keaslian budaya arab. Muhammad kecil dikirim untuk tinggal di padang pasir bersama dengan suku pengasuhnya, Halima, untuk diajari etos sebagai seorang pengembara. Hal ini memberikan kesan yang mendalam bahwa beliau tidak pernah tumbuh dalam kecenderungan ketidakberagamaan dan tanpa spekulasi seputar tathayyur yang dipercayai bangsa arab waktu itu.
Masa kecil Muhammad membuat musuh-musuh beliau kesulitan untuk mengkritik tingkah laku moral beliau sebelum diangkat menjadi nabi atau untuk mengkritik bahwa beliau punya maksud tersembunyi dibalik seruannya. Andai Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam hidup dalam moral yang buruk, tentu saja mereka akan mempertanyakan ketulusan beliau dan meragukan integritas beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam.

0 Komentar