KEMARAHAN RAKYAT SRI LANGKA

Mereka melampiaskan kemarahan dengan mengobrak abrik kediaman mantan presiden Gotabaya Rajapaksa, kemarahan ini akumulasi beragam masalah mulai dari harga barang yang kian melambung dan memicu inflasi hingga 50%. Pemadaman listrik, sampai kurang stok migas dan sembako di dalam negeri. Warga sudah sering mengingatkan Rajapaksa untuk berbuat sesuatu namun aspirasi warga yang di sampaikan lewat demonstrasi kerap dijawab dengan represi apparat.


Apa sih, yang bikin Sri Langka yang jadi kaya gini? Hutang!!

Ini lah awal petaka Sri Langka, penduduk yang berjumlah 22 juta jiwa ini mempuyai hutang 50 miliar USD atau setara Rp764 triliun rupiah, tapi pemerintah Sri Langka ternyata gak becus bayar hutang. Situasi menjadi pelik, lantaran pemerintah Sri Langka salah urus perekonomian. Ini jadi masalah serius, terutama saat pandemi. Sri Langka malah kesulitan dapat cuan, karena pemotongan pajak yang mereka terapkan sejak tahun 2019. Walhasil, pendapatan negara dari pajakpun anjlok.


Lalu hutang 50 miliar USD itu sebenarnya buat apa sih?

Porsi hutang Sri Langka, utang ini salahsatunya untuk pembangunan infrastuktur lantaran Sri Langka butuh bersolek para wisatawan sebagai negara industry turisme. Cuman, utang yang lewat skema obligasi pasar. Skema ini memang mudah, cepat dan enak karena tanpa syarat, tapi bunganya sangat tinggi dan waktu pembayarannya singkat bersamaan dengan itu, cadangan dollar kian menipis karena pemasukan dari tulis terhalang lockdown, pemerintah lalu melarang pupuk kimia yang malah memicu gagal panen nasional.


Ini nih yang bikin Sri Langka makin ngamuk. Soalnya stok makanan dalam negeri kurang, tapi pemerintah tidak punya duit buat impor. Lalu, apa yang dilakukan Sri Langka. Ditengah krisis, Sri Langka berharap Internation Monetary Fun atau IMF memberi bailout alias dana talangan.


Sebelumnya, Sri Langka memang jadi debitur langganan IMF. Sejak bergabung ke IMF pada 1950, Sri Langka menerima 16 kali utang. Namun, utang-utang ini membuat Sri Langka harus menerapkan kebijakan ekonomi IMF. Hanya saja, tak semua skema dana talangan IMF berdampak positif. Dana talangan IMF ke Argentina contohnya, pada 2018 negara ini menerima bailot 57 miliar dollar dari IMF untuk atasi jatuhnya mata uang Peso. IMF dianggap keliru memperkirakan peliknya situasi di Argentina, walhasil, dana talangan itu tak mampu meredam krisis di sana. Mata uang Peso terus jatuh dan inflasi tak terbendung.


Nah, bila Sri Langka tak mau masuk ke jurang yang sama. Postur hutang dan negosiasi dengan kreditur harus dilakukan dengan cermat.

0 Komentar