Mafia mafia mafia
Sumber foto : https://pict.sindonews.net/dyn/732/pena/news/2022/05/18/13/772643/jaksa-agung-soal-lin-che-wei-dia-orang-swasta-tapi-kebijakannya-didengar-dirjen-ino.jpgAkhirnya setelah berbulan-bulan
di landa krisis, biang keladi kelangkaan minyak goreng Indonesia mulai terkuak
satu persatu.
Terbaru adalah sosok ekonom
senior ber nama Lin Chen Wei yang jadi tersangka ke 5 dalam kasus mafia minyak
goreng, pria Bernama asli Weibinanto Halimdjati Jaksa Agus ST burhanudin
menceritakan peran yang di maninkan lin tidak main-main, dia dapat turut
mengambil kebijakan Bersama dirjen perdagangan luar negeri kemendag. Terutama
memutuskan kebijakan dalam menentukan domestic market obligation atau (DMO).
Menariknya Lim ini ternyata tidak
punya posisi jelas di kemendag, dari keterangan yang ada dia hanya di sebut
berperan sebagai konsultan. Sontak pengungkapan Lin ini mengejutkan banyak
pihak, kok bisa ya orangnya bukan orang pemerintahan memiliki pengaruh yang
begitu powerfull. Inilah jalan kekuatan sang broker bisnis.
Meski Namanya jarang didengar,
Lin Che Wei adalah orangnya beberapa kali terlibat dalam urusan ekonomi maupun
politik pemerintahan, di tahun 2003 misalnya dia diundang menjadi fanelist dari
pasangan calon presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Yusuf kalla, lalu ia juga
pernah menjadi staf khusus mantan mentri BUMN sugiarto dan staf khusus mantan
menko perekonomian aburizal bhakri pada tahun 2006, ia pun sempat menjadi tiim
asistensi mentri PPN Bappenas dan mentri atr BPN pada tahun 2016.
Terkhir dia adalah orang yang
dipercaya memberikan masukan tentang skema program masalah persawitan di
kemendag, dan sebenarnya masih banyak lagi sih jabatan yang pernah di pegangnya
yang pernah di pemerintahan, jelas Lin Chen Wei ini benar-benar orang yang di
percaya deh.
Lin Chen Wei mulai ada sorotan
Ketika membongkar skandal bank lippo pada tahun 2003, sebagai analist modal
kala itu Lin Che Wei menilai manajement bank lippo telah melakuakn tindaka yang
merugikan negara. Yaitu sempat dileporkan ke Polisi dan di tuntut sebesar 103
miliar rupiah oleh bank lippo.
Tapi akhirnya lin Chen Wei
memenangkan gugatan dan mendapatkan penghargaan Tasrif Award dari aliansi
journalist Indonesia tau AJI, atas upaya nya yang mengungkap kasus tersebut.
Lebih jauh dari itu Lin Che Wei tercatat pernah mengambil pendidika S2
administrasi Bisnis, di National University Of Singapore pada tahun 1994,
kemudian menurut Leo Suryadinata dalam bukunya Prominent Indonesia Chinese
Biographical sketches, Lin Chen Wei pernah tinggal di kediaman Lim Sioe Liong
atau lebih dikenal Sudono Salim.
Menurut Leo, lim chen wei tinggal
di kediaman Sudono salim di wilayah gunung sari yang bermukin di sana sampai
1998, karena terpaksa harus pindah setelah rumah yang didiaminya diserang oleh
masa yang pada saat itu memiliki sentiment negative yang tinggi terhadap kaum
tionghoa. Kemudian masih menurut keterangan buku Leo, Lim Chen Wei mendapatkan
tawaran dari Societe Generale apakah ingin pindah ke bali atau singapura, Lim
kemudian memilih singapura dan dia mendapatkan bantuan memproleh ijin tunggal
permanen disana.
Setelah tinggal di Singapura,
kairi Lim berkembang pesat sebagai analist ekonom sampai-sampai dia deberi
gelar Indonesia Best Analist oleh Asian Magazine tahun 2022 dan most popular
analist pada tahun 2004. Tapi pada akhirnya Lim kini telah menjadi sosok yang
dibenci semua orang, karena telah merugikan negara, lantas mengapa negara kitab
isa sampai mengandalkan orang seperti Lim?
Richard Robinson dalm buku
Indonesia The Rise Of Capital, menjelaskan salah satu alasannya, kata Richard
“Mayoritas persoalan ekonomi politik Indonesia tidak hanya muncul akibat adanya
konflik kepentingan oligarki, tetapi juga karna ada kepentingan broker
informasi seperti Lim Chen Wei ini.
Secara spesifik Robinson
menyoroti peran pebisnis dan ekonom etnis tionghoa yang memiliki jaringan
khusus dan mengguurita dari singapura hingga Tiongkok, sederhananya ekonom
seperti Lim berperan layaknya pembuka gerbang bisnis Indonesia kedunia.
Robinson menilai ketergantungan Indonesia kepada broker bisnis internasional
adalah akibat ketidak mampuan oligarki local memperluar kemampuan ke antar
negara. Ologarki Indonesia mungkin kuat di tataran domestic tetapi mereka
selalu ketergantungan jasa broker untuk bisa masuk kepasar internasional.
Karena itu tindak korupsi yang dilakukan
orang seperti Lim bisa terjadi karena posisi nya sangatlah dibutuhkan, dan
tidak banyak orang yang bisa menggantinya. Syed Hussein Alatas dalam bukunya
The Sociology Of Corruption menyebut korupsi jenis ini sebagai korupsi
autogenic. Dengan bermodalkan pengetahuan atau pemahaman atas sesuatu yang
secara spesifik yang dia kuasai seorang broker informasi bisa dengan berani
melakukan aksi korupsi.Lim sendiri kekuatan untuk menjembatani pengusaha dan
penguasa dengan bekal pengalamannya malang melintang sebagai penasihat pihak
swasta serta penyelenggaraan negara, kekuatan yang didapat dengan modal
spesifik dan tidak dimiliki banyak orang.
Pada akhirnya korupsi autogenic
yang dilalukan Lim Chen Wei mengajarkan kita bahwa kongkalikong dalam alur
demokrasi dalam alur pemerintahan khususnya untuk membuat kebijakan,
sesuangguhnya cukup rumit. Oleh karena itu penetapan lim Chen Wei sebagai
tersangka oleh kejaksaan agung diharapakan tidak sebatas ekspos kasus korupsi
biasa saja, dengan jaringannya yang luas, bukan tidak mungkin akan nada pihak
lain di balik bayang-bayang menjaga Lim sehingga dia baru bisa di tangkap
sekarang, mungkin kan masih ada master mind di bali m Lim Chen Wei?

0 Komentar