قال رسول الله صلى الله عليه و سلم: إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ اْلأَصْغَرُ، فَقَالُوْا: وَمَا الشِّرْكُ اْلأَصْغَرُ، يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قاَلَ: اَلرِّيَاءُ.
(رواه أحمد)

“Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas kalian adalah syirik kecil.” Mereka (para Sahabat) bertanya: “Apakah syirik kecil itu, wahai Rasulullah?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Yaitu riya’.” (HR. Ahmad)
----------------
Kata رِيَاء diambil dari رَاءَى – يُرَائِي yang artinya memperlihatkan, yakni memperlihatkan amal saleh. Memperlihatkan tersebut bisa dengan cara menampakkannya, membicarakannya, atau menceritakannya.
Riya’ merupakan salah satu akhlak buruk kepada Allah, bukan kepada manusia. Penyakit riya’ umumnya justru dijangkiti oleh orang yang baik akhlaknya kepada sesama manusia, karena tujuannya memang mencari pujian manusia. Sehingga dia akan menunjukkan akhlak mulianya kepada orang lain, mungkin dengan salatnya, murah senyum, atau dengan mudah bersedekah. Tetapi semuanya dilakukan bukan karena Allah melainkan karena ingin dipuji oleh manusia.
Riya’ dikatakan sebagai perbuatan syirik, karena seseorang yang riya’ ketika beribadah dia telah menjadikan manusia sebagai tandingan untuk Allah ﷻ. Tujuan dia saat beribadah bukan karena mengharapkan ridho Allah semata, tetapi juga karena mengharapkan ridho makhluk, dia ingin dipuji oleh manusia, ingin disanjung, ingin dilihat, ingin dihormati dan diakui.Dari sisi inilah, riya’ dikatakan sebagai syirik kecil.
0 Komentar