Belakangan ini, penculikan anak
semakin marak terjadi. Bahkan dalam 2 tahun terakhir, kasus penculikan anak
meningkat 2 kali lipat. Dan banyak orang tua tidak tahu tentang taktik
penculikan yang satu ini. Pelaku sangat berani, walaupun Anda orang tuanya berada
disamping.
Baru-baru ini, ada seorang netizen membagikan kejadian
yang dialaminya ke internet guna menghimbau orang tua yang dialaminya ke
internet guna menghimbau orang tua lain untuk berhati-hati jika bertemu orang
yang seakan “terlalu ramah”. Bergini ceritanya :
Baru kemarin saya bahwa anak saya
pulang ke rumah ibu saya. Kita naik kereta. Di samping saya duduk seorang ibu-ibu,
usianya kira-kira 60 tahun. Sepertinya dia bawa cucu, usianya kira-kira 7-8
tahun.
Selama perjalanan, ibu ini
ngontrol terus sama saya. Bukan cuman itu, dia juga mengingatkan saya kalau di
kereta banyak orang, harus perhatiin barang bawaan. Cucunya juga kadang
main-main sama anak saya.
Anak saya perempuan baru genap 1
tahun. Ibu itu tanya-tanya anak saya umur berapa, kapan lahir, lahir dimana,
berat badannya, bla..bla..bla, terus dia juga cerita tentang cucu dia.
Saya pikir dia cuman ajak ngobrol
biasa, namanya ibu-ibu, duduk di kereta, kebetulan sama-sama bawa anak, yah
ngobrol.
Dia juga tanya anak saya minum
susu apa, seberapa sering, yah saya jawab saja.
Tapi entah kenapa semakin lama pertanyaannya
semakin aneh…semakin mendalam dan mendetail. Masa dia tanya anak saya lahir jam
berapa? Saya pikir ini kurang bagus untuk orang lain tahu yah, jadi saya bilang
saya lupa.
Terakhir, dia tanya anak saya
siapa namanya. Yah saya kasih tahu nama panggilan anak saya, tapi dia tanya
NAMA LENGKAP!.
Disini saya sudah semakin curiga.
Merasa ada yang tidak beres, saya pun memberitahukan nama palsu.
Sebelum sampai stasiun, saya
pamit ke toilet. Ibu itu malah menawarkan saya untuk menitipkan anak kepadanya.
Dalam hati saya sudah sangat curiga. Saya ingin mencari tempat duduk di tempat lain,
namun sudah penuh semua, jadi terpaksa saya kembali lagi duduk di samping ibu
itu. Kelihatan sekali dia menunggu saya di kursi itu sampai saya kembali.
Turun di stasiun, ibu itu bantu
saya bawa koper tanpa di suruh. Kita jalan bareng sampai pintu luar stasiun. Dia
tanya apakah saya ada yang jemput. Saya bilang tidak… (padahal ada).
Tiba-tiba, ibu itu mau menggendong
anak saya. Dia bilang terima kasih sudah menjaga “cucunya”.
Saya langsung kaget. Saya bilang,
“Ibu ! ini apa-apaan sih!?”
Anak laki-laki yang ikut di sampingnya
pun, “orang jahat! Kembalikan adik saya!”
Saya langsung syok anak kecil itu
ngomong begitu. Banyak orang liatin saya, kirain saya culik anak. Tiba-tiba ada
satu cewe datang, panggil nama anak saya (nama palsu yang saya kasih tahu) dan
bilang. “Duh kamu ke mana aja” Dia ngotot mau gendong anak saya. Saya langsung
naik emosi, tapi ngerinya wanita ini ikut naik. Dia Tarik-tarik anak saya. Saya
peluk anak saya erat-erat. Anak saya pun menangis.
Di tengah kekacauan seperti ini,
pak supir juga gak berani jalan. Saya cuman bisa turun lagi dan menghadapi
wanita itu. Mendengar tangisan anak saya, semua orang berhamburan keluar,
kirain saya culik anak.
Anak kecil itu bilang. “Bu,
kembalikan adik saya cepet! Kita mau pulang!”
Saya bilang, “Apa-apaan kalian!? Ini
anak saya!
Tangan dan kaki saya sudah
gemetar. Hati saya sudah dag dig dug, takut anak saya diambil sama mereka. Bagaimanapun,
dua lawan satu.
Tiba-tiba, ada orang yang memanggil.
Pas saya liat, ternyata itu bapak sama ibu! Mereka datang jemput saya!
“Ada apa ini rame-rame begini?”,
tanya bapak.
“itu pak, mereka mau culik anak,
bilang ini anak mereka!”
“ini anak saya kok!”, bela wanita
itu. Saya tahu tanggal lahirnya, golongan darahnya, namanya… dan lain-lain, semua
ia sebutkan satu-satu.
Saya pikir, Astagfirullah… itukan
yang tadi informasi tentang anak saya yang kasih tahu ibu-ibu itu di kereta. Saya
pikir Cuma sekedar ngobrol, gak nyangka bisa jadi seperti ini! Untung saya
kasih tahu nama palsu anak saya.
“kalau gitu, nama anak saya siap?”,
teriak saya.
“Nadin!”, sahut mereka.
“Bukan! Nama anak saya putri! Nadin
itu nama palsu!, teriak saya.
Semua orang yang disana, termasuk
2 wanita itu pun hanya bisa diam.
Saya langsung semprot,”Kalian ini
masih punya hati nurani gak!? Bisa-bisanya ajak anak kecil untuk ikut bohong
sama kalian culik anak orang! Dosa tahu gak! DOSA!”
Mereka langsung diam tak berani
ngomong sepatah kata pun. Saya langsung naik mobil didampingi ayah dan ibu saya
lalu pergi.
Duduk di mobil, badan saya masih
gemetar. Air mata saya mulai bercucuran. Saya peluk erat-erat putri saya. Kalau
saja ayah dan ibu tidak datang tepat waktu … bisa-bisa anak saya beneran
direbut sama dua orang itu…
Setelah sampai di rumah, sudah
aga tenang, kami langsung lapor polisi. Ternyata polisi juga bilang kalau akhir-akhir
ini kerap terjadi penculikan anak, mungkin ini adalah salah satu cara yang
mereka gunakan.

0 Komentar