Adab Meninggalkan Rumah hingga Tiba di Majelis Mengajar


Materi 2 (Adab Meninggalkan Rumah hingga Tiba di Majelis Mengajar)

TENTANG ADAB ADAB ULAMA TERHADAP DIRINYA KETIKA BERSAMA PARA MURIDNYA DAN DALAM KAJIANNYA

Terdapat tiga pasal:

PASAL KEDUA : TENTANG ADAB-ADAB ULAMA DALAM KAJIANNYA

ADAB KEDUA: Adab Meninggalkan Rumah hingga Tiba di Majelis Mengajar

Manakala keluar dari rumah, dia membaca doa yang shahih dari Nabi , yaitu
اللهم اني أعوذبك أن أضل أو أضل, أو أزل أزل, أو أظلم أو أظلم, أو أجهل أو يجهل علي, عز جارك, وجل ثناؤك, ولا اله غيرك.
"Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu agar tidak tersesat atau disesatkan, melakukan kebodohan atau dibodohi (orang lain). Sunguh kuat perlindunganMu, sungguh mukia sanjunganMu, tidak ada Tuhan yang Haq selain Mu."

Kemudian mengucapkan, 
بسم الله وبالله, حسبي الله, توكلت على الله, لا حول ولا قوة الا بالله العلي العظيم, اللهم ثبت جناني و أدر الحق على لساني.
"Dengan Nama Allah dan dengan pertolongan Allah, cukuplah Allah sebagai penolongku, aku bertawakkal kepada Allah, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah yang MahaTinggi lagi MahaAgung. Ya Allah, teguhkanlah hatiku dan luncurkanlah kebaikan melalui lisanku."

     Kemudian, selalu mengingat Allah hingga tiba di majelis mengajar. Pada saat tiba, mengucapkan salam kepada hadirin, shalat dua rakaat jika bukan pada waktu yang dilarang untuk shalat, jika tempat mengajar adalah masjid, maka shalat dua rakaat ini di tekankan secara mutlak.

     Kemudian berdoa kepada Allah memohon taufik, pertolongan dan perlindungan, duduk menghadap kiblat, jika memungkinkan, denga penuh wibawa, tenang, tawadhu', dan khusyu', dengan bersila atau duduk dengan cara lainnya yang tidak makruh.

     Tidak duduk dengan menegakkan kedua betis, jongkok, mengangkat salah satu kakinya ke kaki lainnya, menjukurkan kedua kakinyaatau salah satu kakinya tanpa alasan, tidak duduk bersandar kepada kedua tangannya ke arah sisinya atau belakang punggungnya. Hendaknya menjaga tubuhnya dengan tidak menggeser pantatnya dan berpindah dari tempatnya, menjaga kedua tangan dari iseng dan menganyam jari-jemarinya, menjaga kedua matanya dari memandang ke segala penjuru tanpa alasan.

     Menjaga diri dari canda dan banyak tawa, karena ia menurunkan kewibawaan dan menjatuhkan harga diri, sebagaimana dikatakan, "Barangsiapa bercanda, maka dia diremehkan, dan barang siapa memperbanyak sesuatu, maka dia dikenal dengannya."

     Tidak mengajar pada saat lapar, haus, sedih, marah, kantuk atau gelisah, tidak pula pada saat dingin yang menggigit dan panas yang menyengat, karena bisa jadi dia menjawab atau berfatwa tidak benar, karena dalam keadaan tersebut, dia tidak kuasa untuk memikirkan masalah dengan sebaik-baiknya.

(Diterjemahkan dari Kitab Tadzkirotussaami wal mutakallim fi Adabil 'Alim Wal Muta'allim Karya Imam Al Qodhi Ibnu Jama'ah)

Barakallahu fikum 

0 Komentar