Berusaha dengan Sungguh-Sungguh dan Selalu Ingin Menambah Kebaikan


Materi 10 (Berusaha dengan Sungguh-Sungguh dan Selalu Ingin Menambah Kebaikan)

*TENTANG ADAB ADAB ULAMA TERHADAP DIRINYA KETIKA BERSAMA PARA MURIDNYA DAN DALAM KAJIANNYA*

Terdapat tiga pasal:

*PASAL PERTAMA: TENTANG ADAB ADAB ULAMA TERHADAP DIRINYA*

*ADAB KESEPULUH: Berusaha dengan Sungguh-Sungguh dan Selalu Ingin Menambah Kebaikan*

    Hendaknya ingin selalu menambah kebaikan, berusaha keras dan sungguh-sungguh, menjaga wirid-wirid secara rutin, ibadah, menyibukkan diri dan mengisi waktu, membaca dan mengajar, menelaah dan berpikir, memberi catatan dan menghafal, menulis dan mengkaji.

     Tidak patut menyia-nyiakan sebagian dari waktu hidupnya untuk selain lahannya, yaitu ilmu dan amal kecuali untuk sesuatu yang mendesak seperti makan, minum, tidur, istirahat dari penat, menunaikan hak istri atau tamu, mencari makan dan hajat lainnya, atau karena sakit dan lainnya yang menghalangi kesibukan, karena sisa umur seorang Mukmin tidak ternilai harganya dan barangsiapa dua harinya sama maka dia merugi.

     Sebagian ulama tidak meninggalkan kesibukan karena penyakit yang ringan, sebaliknya mereka mencari kesembuhan melalui ilmu dan menyibukkan diri dengannya, sebagaimana dikatakan, 
اذا مرضنا تداوينا بذكركم          و نترك الذكر أحيانا فننتكس
Jika kami sakit, kami berobat dengan mengingat kalian
Dan terkadang kami tidak mengingat kalian, maka kami sengsara.

     Hal itu karena derajat ilmu adalah derajat warisan Nabi-nabi, dan martabat-martabat yang tinggi tidak diraih kecuali dengan kerja keras jiwa. Dalam shahih Muslim, dari Yahya bin Abu Katsir, dia berkata, 
لا يستطاع العلم براحة الجسم
"Ilmu tidak diraih dengan tubuh yang bermalas-malasan."
Dalam hadits,

حفة الجنة بالمكاره.
"Surga dikelilingi oleh perkara-perkara yang dibenci."
Sebagaimana dikatakan,

ولا بد دون الشهد من ابر النحل
"Untuk memanen madu, harus siap disengat lebah."
Sebagaimana dikatakan,

لا تحسب المجد تمرا أنت آكله          لا تبلغ المجد حتى تلعق الصبرا 
Jangan menyangka kemuliaan itu adalah kurma yang kamu santap 
Kamu tidak akan mencapai kemuliaan sebelum mengenyam (pahit nya) buah Shabir.
Asy-Syafi'i Radhiallahu 'Anhu berkata,

حق على طلبة العلم بلوغ غاية جهدهم في الاستكثار من علمه, و الصبر على كل عارض دون طلبه, و اخلاص النية لله تعالى في ادراك علمه نصا واستنباطا, والرغبة الى الله تعالى في العون عليه.
"Patut bagi para penuntut ilmu mengerahkan segala usaha mereka untuk meningkatkan ilmu, sabar menghadapi segala rintangan yang menghadang jalannya, mengikhlaskan niat karena Allah untuk meraih ilmu baik secara tekstual atau kontekstual, berharap kepada Allah dengan memohon pertolongan kepada Nya untuk meraihnya."

Ar-Rabi' berkata,
لم أر الشافعي رضي الله عنه آكلا بنهار ولا نائما بليل لاشتغاله بالتصنيف.
"Aku tidak pernah melihat Asy-Syafi'I makan di siang hari dan tidur di malam hari karena dia sibuk menulis"

     Namun begitu, tidak patut membebani diri melebihi kapasitasnya agar tidak bosan dan jenuh, bahkan bisa jadi ia menolak keras sehingga sulit untuk mengembalikannya, akan tetapi hendaknya menjaga keseimbangan, dan setiap orang lebih mengetahui (kemampuan) dirinya.

(Diterjemahkan dari Kitab Tadzkirotussaami wal mutakallim fi Adabil 'Alim Wal Muta'allim Karya Imam Al Qodhi Ibnu Jama'ah)

Barakallahu fikum 

0 Komentar