GUBERNUR YANG ADA DI HATI RAKYATNYA

Masjidil Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah menggelar shalat istisqa atau shalat minta hujan pada hari Kamis (19/11). 
Dilansir dari National World, shalat ini diikuti oleh Pangeran Khalid bin Faisal Al Saud, selaku gubernur Provinsi Makkah. Masjid lain di seluruh Arab Saudi juga melakukan shalat istisqa seperti yang diperintahkan Raja Salman. 

Berbeda dengan negeri ini yang curah hujan turun sepanjang tahun, di jazirah Arab hujan adalah suatu“kemewahan”. Musim kemarau berkepanjangan akan membawa kesengsaraan dan datangnya paceklik serta matinya hewan ternak. 

Dalam sejarahnya, kemarau panjang pernah terjadi pada masa Khaliffah Umar ibn Khattab. Selama 9 bulan lamanya tak ada sesetespun air turun dari langit. Hingga tahun itu diberi nama ‘Ammu Ramad atau tahun debu. Khalifah lalu meminta Muslimin untuk menggelar shalat istisqa dengan syarat yang mengikutinya adalah orang-orang yang tidak memutus tali silaturahim. Karena orang yang memutus tali silaturahim doanya tidak akan dikabulkan Allah. Tak lama setelah itu hujan mengguyur kota Madinah. Umar ibn Khattab terkenal sangat berhati-hati dalam “memilih” orang. Dengan keluasan ilmunya ia bisa “membaca” sesuatu yang tidak terlihat oleh orang pada umumnya. 

Salah satu kisah yang masyhur adalah pencopotan Khalid ibn Walid sebagai panglima perang saat pembebasan Syam. Kisah yang tak kalah terkenal adalah kejeliannya dalam memilih gubernur untuk kota Hims, di Syam. Kota yang hari ini bernama Homs dan masuk wilayah Suriah. Penduduk kota Hims terkenal sangat rewel. suka mengeluh, dan banyak berulah. Hingga siapapun yang diangkat menjadi gubernur akan berganti dalam waktu singkat. 

Menurut Umar, kriteria yang sesuai adalah orang yang sholeh, berilmu, tegas, membukakan pintunya untuk siapa saja yang mau mengeluh alias dekat dengan rakyat, zuhud, amanah, tidak mengejar jabatan kecuali karena Amirul Mukminin yang memaksanya. Di antara semua kandidat yang ada, pilihan mengerucut pada sahabat Umair bin Saad. Ia memenuhi semua kriteria itu. Namun sayangnya ia sedang berada di antara pasukan yang berjihad. 

Singkat cerita akhirnya Umair bin Saad ditarik dari medan jihad dan ditugaskan sebagai gubernur kota Hims yang awalnya ditolaknya. Setahun berlalu, Umair dipanggil ke Madinah untuk memberikan laporan. Apa yang terjadi? Sahabat yang terkenal zuhud itu sampai ke Madinah dalam keadaan pucat dan kelelahan. “Mengapa keadaanmu seperti ini?” Tanya Amirul Mukminin. “Aku baru tiba dari Syam dengan berjalan kaki,” jawabnya. Jarak Syam ke Madinah bila ditempuh dengan kuda membutuhkan waktu kurang lebih satu bulan pada masa itu. Terbayang kalau harus berjalan kaki seperti apa beratnya. Kagetlah Amirul Mukminin. Ternyata selama menjabat sebagai gubernur, Umair sangat menjaga amanah yang diembannya. Ia menggunakan uang negara betul-betul untuk kesejahteraan rakyat. Keluarganya tetap hidup dalam kesederhanaan. Ia menambal sendiri pakaiannya yang robek. Bahkan ia tidak meminta fasilitas kendaraan dinas untuk memenuhi panggilan Khalifah ke Madinah. Allahu akbar! 

Suatu kali utusan Khalifah memberinya uang 1000 dinar. Sebelum utusan kembali, uang itu telah selesai ia bagikan pada rakyat yang membutuhkan. Di masa kepemimpinannya, kota Hims lebih tenang. Perlahan, rakyat yang sebelumnya bergejolak, tumbuh cinta pada pemimpinnya karena keteladanan yang ditunjukkan. Tak perlu propaganda, gubernur yang amanah itu ada di hati rakyatnya. 

Jakarta, 20/11/2020 Uttiek

0 Komentar